TOUNA- UPT Puskesmas Ampana Timur mencatat tingginya kasus hipertensi dan diabetes mellitus dibandingkan Puskesmas lain di wilayah kecamatan. Berdasarkan data BPJS Kesehatan, jumlah penderita yang terkendali melalui Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) masih sangat terbatas.
Kepala Puskesmas Ampana Timur Kecamatan Ratolindo Ni Made Lydia menyebut, pada 2025 hanya satu penderita diabetes yang dinyatakan terkendali, sementara hipertensi berkisar 20-an orang.
“Yang terkendali itu masih sangat sedikit. Diabetes hanya satu orang, hipertensi sekitar dua puluhan,” ujarnya.
Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dalam rangka memperingati Hari Diabetes Mellitus Nasional yang digelar di wilayah kerja Puskesmas Ampana Timur, Kecamatan Ratolindo, Sabtu (2/5/2026).
Dalam kesempatan itu, ia juga mengungkapkan fakta lapangan yang menunjukkan tren mengkhawatirkan pada kelompok usia muda. Melalui pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah, ditemukan sejumlah siswa SMA telah memiliki kadar gula darah tinggi dan mengalami hipertensi.
“Di SMK Negeri 1, SMA Negeri 2, dan beberapa sekolah lain, sudah ada anak-anak yang terdeteksi gula darahnya tinggi bahkan hipertensi. Ini sangat memprihatinkan,”ujarnya
Menurutnya, penyakit tidak menular seperti diabetes kerap disebut sebagai “pembunuh diam-diam” karena gejalanya tidak disadari sejak awal.
“Biasanya baru diketahui saat usia 40 tahun ke atas, ketika sudah muncul komplikasi di ginjal, mata, jantung, dan pembuluh darah. Saat itu, seringkali sudah terlambat,” jelasnya.
Sebagai langkah strategis, Puskesmas Ampana Timur mengembangkan inovasi “Sahabat Si Dia” yang melengkapi program Prolanis. Inovasi ini menitikberatkan pada edukasi masif, pengingat rutin kepada pasien, serta kunjungan langsung ke masyarakat.
“Kami tidak hanya menunggu di puskesmas, tetapi turun langsung ke rumah, sekolah, bahkan rencana ke pasar. Edukasi harus didahulukan, agar masyarakat paham sebelum dilakukan pemeriksaan,” tegasnya.
Ia juga menambahkan, pola konsumsi masyarakat terutama anak-anak menjadi perhatian serius, terutama terkait gula tersembunyi dalam makanan dan minuman.
“Banyak gula tersembunyi di minuman seperti boba dan teh manis. Kalau ini terus dikonsumsi tanpa kontrol, risikonya sangat besar, bahkan bisa berdampak pada ginjal sejak usia muda,”tandasnya.
Melalui inovasi ini, Puskesmas Ampana Timur berharap dapat meningkatkan angka pengendalian hipertensi dan diabetes sekaligus menekan risiko penyakit tidak menular di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.








