TOUNA- Wakil Bupati Tojo Una-Una, Surya Lapasiri secara resmi melaunching Maleo Festival 2026 yang mengusung tema “Harmoni Alam dan Rumah Budaya Sulawesi Tengah” di Kecamatan Ampana Tete, Selasa 2 Juni 2026.
Pada kesempatan itu, Wakil Bupati Touna, Surya Lapasiri mengatakan bahwa Maleo Festival bukan sekadar kegiatan hiburan atau pertunjukan seni budaya, tetapi menjadi wadah untuk memperkenalkan kekayaan budaya, keindahan alam, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat Sulawesi Tengah kepada khalayak yang lebih luas.
Tema yang diangkat tahun ini memiliki makna mendalam karena mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian alam dan budaya sebagai dua unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan.
“Alam memberikan sumber kehidupan, sementara budaya memberikan arah dan nilai dalam menjalani kehidupan tersebut. Ketika keduanya terpelihara dengan baik, maka akan terwujud keseimbangan dan kehidupan yang harmonis,”kata Wabup.
Menurutnya, Kabupaten Tojo Una-Una memiliki kekayaan alam yang luar biasa, mulai dari pesona laut, pegunungan, hutan hingga keanekaragaman hayati yang menjadi kebanggaan daerah. Karena itu, seluruh potensi tersebut harus dikelola secara bijaksana dan bertanggung jawab demi keberlanjutan generasi mendatang.
“Keberadaan burung Maleo sebagai simbol penting yang merepresentasikan kekayaan alam Tojo Una-Una. Burung endemik yang langka tersebut dinilai bukan hanya menjadi ikon keanekaragaman hayati, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem,”jelasnya
Ia menegaskan, penggunaan nama Maleo dalam festival ini memiliki makna filosofis yang kuat, yaitu mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadi bagian dari upaya pelestarian alam dan budaya secara berkelanjutan.
“Selain aspek pelestarian lingkungan, Surya menekankan pentingnya menjaga dan mengembangkan budaya sebagai identitas daerah. Ia menyebut budaya merupakan warisan yang membentuk karakter dan kepribadian masyarakat sehingga harus terus dirawat agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman,”tegasnya
Maleo Festival menjadi ruang strategis untuk menampilkan berbagai ekspresi seni dan budaya daerah, mulai dari tarian tradisional, musik daerah, kuliner khas, kerajinan rakyat hingga beragam kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Sulawesi Tengah.
“Kegiatan ini juga menjadi media edukasi bagi generasi muda agar tidak melupakan akar budayanya di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Generasi muda harus menjadi pewaris sekaligus penjaga nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu,”ujarnya
Saya berharap para pemuda untuk terus berkarya, berinovasi, serta memanfaatkan berbagai media dan platform digital dalam mempromosikan budaya daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
“Di sisi lain, penyelenggaraan Maleo Festival diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Melalui kegiatan tersebut, pemerintah berharap semakin banyak wisatawan yang datang untuk mengenal dan menikmati keindahan alam serta kekayaan budaya Tojo Una-Una,”harapnya
Keberhasilan festival tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan panitia pelaksana, tetapi membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat melalui semangat kebersamaan dan gotong royong.
“Sejalan dengan filosofi daerah kita, Sivia Patuju yang berarti satu tujuan, seluruh komponen masyarakat harus bersatu dalam mewujudkan pembangunan daerah yang religius, maju, adil dan sejahtera,”tandasnya.
Mengakhiri sambutannya, Wabup mengajak seluruh masyarakat menjadikan Maleo Festival sebagai momentum memperkuat persatuan, menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas daerah, serta memperkenalkan potensi Tojo Una-Una dan Sulawesi Tengah di tingkat nasional maupun internasional,”ajaknya.








